Penyakit Gila Belanja

Supermarket, mall-mall, dan berbagai pusat perbelanjaan kini telah didirikan di mana-mana. Budaya konsumerisme di kalangan masyarakat pun semakin melesat tiada tara. Di sisi lain, promosi produk barangjuga semakin gencar dilakukan melalui berbagai media dengan tawaran produk yang menggugah jiwa. Walhasil, jangan heran jika manusia di zaman ini sering menjadikan aktivitas belanja sebagai kegemaran yang acapkali tak terkendali. Sehingga, secara sadar atau tidak sadar, sikap hidup boros telah menjadi ‘panglima’ kehidupan. Fenomena ini bukanlah hal yang positif, jika kita membaca sabda Nabi SAW berikut, “Bagian wilayah negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian wilayah negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim)

Awas, Penyakit Shopaholic!
Aktivitas belanja lebih dekat dengan keseharian para wanita, karena dalam kultur di negeri kita, wanitalah yang kerapkali memainkan perannya dalam dunia perbelanjaan.Ada satu hal terkait dengan aktivitas belanja ini yang kiranya perlu kita waspadai. Yakni, ketika hati kita terlalu gandrung mendatangi berbagai pusat perbelanjaan., sampai taraf yang berlebihan. Ya, jika Anda terlalu hobi belanja dan keranjingan sekali untuk menjejakkan kaki di pasar, mall-mall, supermarket, dan berbagai pusat perbelanjaan, maka hati-hatilah! Bisa jadi, walau masih dalam taraf rendah sekalipun, Anda sedang terjangkiti ‘kecanduan belanja’ (shopaholic). Sehingga, dorongan untuk membeli barang-barang yang memikat hati kita tak lagi mampu dibendung. Uang kita pun berhamburan di kasir-kasir supermarket, tanpa mampu dimenej. Ekonomi keluarga pun bisa carut-marut karenanya. Na’ udzubillah.

April Benson, seorang psikolog dari Manhattan, AS, dalam bukunya I Shop Therefore I Am: Compulsive Buying and The Search for Self While, mengungkap temuan menarik. Sembilan dari sepuluh orang wanita mengalami shopaholic atau kecanduan belanja. Orang-orang yang mengalami kecanduan beanja seringkali merasa cemas, gelisah, dan depresi ketika keinginannya berbelanja atau membeli sesuatu barang tidak kesampaian. Mereka merasa terdesak buat membeli suatu barang. Bahkan, shopamaniac itu seringkali berbelanja sekadar untuk melepaskan diri dari kejenuhan. Tapi, kebiasaan ini menjadi rutinitas, tiap kali shopamaniac mengalami kejenuhan. Sampai akhirnya mereka kecanduan belanja. Mereka menjadi pecandu belanja (complusive shoppers), yang secara populer sering disebut shopaholic; mirip dengan workaholic (kecanduan kerja) yang mencontek sebutan alcoholic bagi orang kecanduan alkohol.

April Benson mengklasifikasi beberapa penyebab seseorang menjadi pecandu belanja. Secara kejiwaan dia mengalami masa kecil yang kurang bahagia. Merasa ditolak, kurang diperhatikan, dan tak mendapatkan apa yang diinginkan. Ketika dewasa dan memiliki kehidupan finansial memadai, orang-orang ini mulai melepaskan ketegangan yang dialami waktu kecil. Tapi, kebanyakan tak bisa menghentikan kebiasaan ini, sehingga prosesnya berulang dan membuat kecanduan. Faktor lain yang ikut andil membuat orang jadi gila belanja, diantaranya adanya waktu luang yang tak termanfaatkan dengan baik, kurang percaya diri, dan gencarnya promosi barang dan jasa melalui berbagai media. Dan yang tak kalah penting adalah faktor gengsi.

Syaikh Abdurrahman As-Suhaim di dalam bukunya Fitnah At-Tasawwuq mengatakan, “Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah riset terkait penyakit psikologis yang tersebar di kalangan non muslim. Sebelumnya saya mengira penyakit ini terbatas hanya ada di kalangan mereka, ternyata saya mendengar penyakit itu juga ada pada kalangan muslim. Tahukah Anda, penyakit apa itu? Ya, penyakit yang dikenal dengan istilah ‘kecanduan belanja’ atau ‘gila belanja’. Dan statistik menunjukkan ada 800.000 pecandu belanja di Inggris dengan taraf yang mengkhawatirkan. Sementara di Amerika jumlahnya berlipat 3.500.000 penggila belanja! Diantara pecandu belanja ini, ada yang sampai pailit dan harus melego semua kekayaan yang ia miliki. Selanjutnya banyak bermunculan klinik-klinik rehabilitasi kecanduan belanja.”

Gaya Hidup Boros
Pada hakikatnya, kecanduan belanja adalah implementasi dari tabdzir, pemborosan yang dilarang agama. Sebab, kebutuhan yang dibeli rata-rata adalah kebutuhan tersier, kebutuhan tambahan yang seringnya tidak diperlukan. Memang, umumnya virus ini lebih banyak menjangkit individu yang bertaraf hidup tinggi. Sebab, aneh dan hampir mustahil rasanya jika ada yang hidupnya pas-pasan tapi kecanduan belanja. tapi bagaimanapun, semua fakta ini menjadi warning, peringatan bagi kita semua agar menghindari gaya hidup boros, apapun bentuknya.

Kalaupun sebagian atau kebanyakan kita, merasa tidak mungkin akan kecanduan belanja, namun tetap saja ini menjadi peringatan penting. Mungkin kita tidak terjangkit shopaholic sampai sedemikian parah, tapi tidak menutup kemungkinan kita terjangkit bibit kecanduan belanja berupa suka membeli sesuatu hanya karena ingin, bukan karena butuh. Dan ini tidak boleh dibiarkan. Bibit virus ini tidak tumbuh, barangkali karena tidak ada media, dalam hal ini kemampuan finansial. Tapi jika taraf ekonomi naik, bibit ini akan tumbuh dengan pesat. Selain itu, tidak mampu membuat prioritas dalam belanja juga bisa menjadi cikal bakal pemborosan.

Akhirnya kita, terkhusus kepada para muslimah, agar lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan. lebih-lebih bagi yang sudah berkeluarga. Manajemen keuangan yang baik mutlak diperlukan untuk menghindari pemborosan. Semoga kita terhindar dari tabdzir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s