Curang Itu Bukan Untung

Kemarau panjang menerpa Kaum Madyan, umat di mana Nabi Syu’aib diutus. Tanah tak menumbuhkan tanaman dan buah-buahan, udara terasa panas dan membakar kulit. Saat itu, terlihat dari kejauahan awan gelap menggelayut di langit. Pucuk dicinta ulam tiba, begitulah dugaan mereka. Mereka menghampiri awan untuk berteduh sehingga mereka berdesak-desakan di bawah awan itu. Dalam pikiran mereka, itu adalah hujan yang bakal mengakhiri penderitaan panjang mereka. Tapi, tidak dinanya, ternyata bukan hujan air seperti yang mereka harapkan, melainkan hujan petir yang menghujani mereka hingga binasa.

Durhaka Kaum Madyan, Durhaka Umat Sekarang
Jenis kedurhakaan apakah hingga membuat kaum Syu’aib terhina begitu nista? Mereka telah mendustakan dakwah Syu’aib dalam dua hal, dakwah tauhid dan larangan curang dalam timbangan, Allah berfirman, “Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu’aib, Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada ilah yang haq selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan.” (QS. Huud 84)

Mestinya, adzab yang menimpa sekaligus sebab yang menimbulkan Kaum Madyan disiksa begitu rupa, menjadi pelajaran bagi kita. Jika kita renungkan, sedikit banyak, musibah yang kita alami mirip dengan bencana yang menimpa Kau Madyan. Dan ternyata, ada kesamaan pula dari sisi kebiasaan yang mengundang kemurkaan Allah atas mereka.

Setiap kita telah merasa gerah dengan kemarau panjang, kitapun mengharap agar hujan segera turun. Kita menyangka, turunnya hujan berarti akhir dari kesulitan,. Tapi ternyata, datangnya musim penghujan justru pertanda datangnya banjir, puting beliung, tanah longsor, dan musibah lain. Ketika kita jenuh dengan luapan air hujan, kitapun mengharap datangnya musim kemarau, sehingga aktivitas kembali normal. Namun lagi-lagi kita kecele. Ternyata, kemarau membawa masalah tersendiri yang tidak kita ingini.

Jika kita mengaca diri, apa yang menjadi kebiasaan Kaum Madyan ternyata dilestarikan oleh masyrakat kita. Di mana ‘thaffaf’ (curang dalam timbangan) menjadi mata pencaharian unggulan. Meminta lebih ketika membeli, tapi mengurangi timbangan dengan sembunyi ketika menjual. Siapapun tidak mau menjadi korban kecurangan, tapi sayang, justru banyak yang tega menjadikan saudaranya sebagai korban penipuan. Bukankah kita merasa dongkol ketika takaran bensin kita dicurangi, timbangan buah-buahan kita dikibuli? Atau transaksi jual beli kita diakali? Begitupun orang lain juga akan jengkel ketika menjadi korban kecurangan. Jika kemudian doa buruk meluncur dari lisan korban, maka posisi orang yang terzhalimi itu tidak terhijabi, Allah akan mengabulkannya. Maka jangan heran, orang yang ingin mencari untung dengan jalan curang tidak akan untung selamanya. Mungkin akan bangkrut, hartanya tidak barakah, atau selalu mengahapi masalah, meskipun terkadang tak langsung berkaitan dengan urusan dagangnya. Tapi yang jelas, ketika seseorang berbuat buruk kepada orang lain, sesungguhnya ia tengah menyiapkan lobang kebinasaan untuk dirinya sendiri.

Adapun orang yang jujur, menyempurnakan timbangan dan takarannya, maka keberkahan akan menyelimuti dirinya. Dia akan mendapat keuntungan yang datangnya langsung dari Allah Pemberi Rejeki, dan inilah keuntungan yang sebenar-benarnya. Seperti nasihat Nabi Syu’aib kepada kaumnya, “Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman.”

Teladan Dalam Berjual Beli
Ada teladan yang elok pada diri sendiri tabi’in yang alim, abid, dan wara’. Kejujuran dan perlakuan baiknya kepada orang yang bermualah kepada beliau mendatangkan keberkahan tiada tara. Beliau memiliki pegawai yang turut menjualkan pakaian. Suatu kali, pegawai itu menjual selembar pakaian kepada orang Badwi di Bashrah dengan harga 10 dirham. Tatkala Yunus kembali ke tokonya dan mengetahui hal itu, beliau menyuruh pengawainya untuk mencari orang Badwi tersebut di tengah pasar. Tatkala ketemu dan datang kepada Yunus, beliau berkata kepadanya, “Sesungguhnya pelayanku ini menjual pakaian kepadamu dengan harga sepuluh dirham, padahal harganya hanya tujuh dirham. Orang Badwi itu berkata, “Tetapi saya sudah rela pakaian ini dihargai sepuluh dirham.” Yunus berkata, “Akan tetapi kami tidak ridha pakaian itu untuk Anda, kecuali jika kami meridhai harganya, maka terimalah kembaliannya yang tiga dirham ini, atau Anda kembalikan saja baju tersebut.”

Adapun sikap beliau tatkala membeli lebih menakjubkan. Tatkala datang seorang wanita di pasar Khuzz, sedang Yunus dalam keadaan berdagang, wanita tersebut membawa jubah-jubah Khuzz untuk dijual, dia menawarkan kepada Yunus, lalu beliau bertanya, “Dengan harga berapa Anda hendak menjualnya?” Wanita itu berkata, “500 dirham” Yunus berkata, “Jubah ini terlalu bagus untuk harga sekian.” Wanita itu berkata, “Bagaimana jika 600 dirham” Yunus menjawab, “Masih terlalu bagus untuk harga sekian.” Yunus terus menambah harga hingga beliau membelinya dengan harga 1000 dirham! Beliau tidak memanfaatkan kelengahan wanita yang menjual jubah tersebut, beliau menghargai barang tersebut dengan harga yang pantas dengan kualitasnya. Karena beliau suka memperlakukan saudaranya dengan sesuatu yang beliau suka diperlakukan seperti itu. Anda berani mencoba?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s