Berlian Disangka Batu Biasa

Seringkali kita meremehkan orang karena melihat tampilannya semata. Karena kefakirannya, pekerjaannya, atau kekurangan fisiknya. Padahal boleh jadi orang itu lebih tinggi derajatnya dari kita, lebih banyak memberikan manfaat bagi umat, lebih berat timbangan amalnya, dan lebih manjur doanya dibanding kita. Nabi mengingatkan, “Berapa banyak orang yang kusut dan berdebu, mengenakan dua lembar kain usang, ia tidak dihiraukan manusia, namun ketika dia berdoa kepada Allah, niscaya Allah pasti mengabulkannya.” (HR. Tirmidzi)

Bisa jadi, banyak orang yang seperti itu di sekitar kita. Mereka laksana permata, namun disangka orang sebagai batu biasa. Tidaklah bijak, seseorang meremehkan, melecehkan, atau melakukan penghinaan kepada orang lain, hanya karena melihat sifat khalqiyyahsemata, yakni sifat yang memang seperti itu Allah ciptakan. Menghina ciptaan, berarti menghina Penciptanya.

Tidak pantas seseorang dipuji atau dicela, dalam hal yang ia tidak ada pilihan kecuali hanya menerima jatah dari Penciptanya. Dihina karena hitam kulitnya, dicela karena cacatnya, atau dilecehkan karena ia menjadi keturunan siapa. Para ahli tafsir meneyebutkan beberapa versi tentang sebab turunnya firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok)…” (QS. Al-Hujurat: 11)

Sekian versi itu mengindifiksikan kasus penghinaan yang dialami oleh sahabat atau sahabiyat yang bagus keislamannya, namun orang tuanya dikenal sebagai orang yang tidak baik, kafir atau bahkan dedengkot kafir. Ada yangmenyebutkan ayat itu turun terkait dengan celaan orang terhadap ummul mukminin Shafiyah yang diejek dengan sebutan Yahudiyah keturunan Yahudi. Ada pula yang berpendapat ayat itu terkait dengan penghinaan atas sahabat Ikrimah bin Abi Jahal, karena bapaknya tokoh kafir. Dan ada pula yang mengaitkan dengan kasus seorang sahabat yang berebut tempat duduk di majelis Nabi SAW, lalu orang yang tidak terima menyebut-nyebut ibu lawan bicaranya yang dikenal bukan wanita baik-baik. Itu semua bukan hasil ulahnya, sehingga tidak layak ia dicela. Yang layak dipuji atau dicela adalah sifat atau karakter yang ia diberi peluang untuk memilih dan mengupayakannya. Seperti sifat khuluqiyyah atau perangai, dan ketundukannya terhadap perintah dan larangan.

Tidak layak pula seseorang dihina karena kefakirannya. Karena rejeki adalah jatah yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan dengan kadar yang Allah kehendaki pula. Yang layak dinilai adalah usahanya dalam mencari rejeki dan bagaimana sikapnya dalam menerima jatah rejeki yang Allah tetapkan, bagaiamana jika ia ditakdirkan fakir, dan bagaimana jika ditakdirkan kaya. Sisi yang layak dinilai adalah kesabaran dan tingkat syukurnya, bukan kaya atau miskinnya.

Benarlah apa yang disabdakan oelh Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk fisikmu, bukan pula pada hartamu, akan tetapi Dia melihat hati dan perbuatanmu.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s