Istri Minta Pembantu

Seorang istri memiliki tanggung jawab yang tidak sedikit dalam sebuah rumah tangga. Merawat semua harta suami, menyiapkan hidangan makanan setiap hari, mencuci pakaian, mengurusi anak-anak, dan kesibukan lainnya yang tidak sedikit adalah rutinitas yang tak pernah berhenti. Terlebih bila suami bekerja rutin setiap hari, pergi pagi, pulang malam. Belum lagi, jika suami menginginkan penyambutan sang istri, padahal bisa jadi ia sudah kecapekan karena kesibukannya di siang hari.

Melihat kondisi demikian, apakah tercela bila seorang istri meminta suami agar dicarikan seorang pembantu? Lalu, apakah suami wajib memenuhinya? Karena bisa jadi, dengan adanya pembantu, sang istri bisa lebih berbakti pada suaminya.

Bila melihat contoh kehidupan di zaman Nabi SAW dan para sahabatnya, ternyata tidak sedikit mereka yang memiliki pembantu, dan istri-istri Nabi juga memiliki pembantu. Diceritakan dari Anas, ia berkata, bahwa suatu ketika Nabi SAW berada di salah satu tempat istrinya (Aisyah). Lalu salah seorang dari Ummahatul Mukmin (Zainab binti Jahsy) mengirimkan sepiring makanan, dan tiba-tiba Aisyah menyenggol tangan pembantu sehingga piring pun jatuh lalu pecah. Segera Nabi SAW mengumpulkan belahan piring tersebut, lalau makanannnya dimasukkan ke dalam piring, dan bersabda, ” Ibu kalian cemburu.” Lalu beliau mendahului pembantunya hingga membawakan piring dan menggantikan piring yang pecah dengan baik.

Kebolehan dalam hal ini tentu secara umum mengikuti aturan dan rambu-rambu syar’i. Maka bila ia seorang wanita, ada empat hal yang perlu diperhatikan: pertama, hendaknya pembantu tersebut seorang muslimah. Kedua, ia bersama salah satu dari mahramnya atau suaminya. Ketiga, mesti menjaga batasan-batasan syar’i, seperti tidak boleh berkhalwat. Dan keempat, hendaknya tidak dibebani menangani pendidikan anak.

Tidak wajib bagi suami untuk memenuhi permintaan istrinya untuk mendatangkan pembantu, karena tidak ada satu dalil pun yang mewajibkan. Yang ditekankan dalam hal ini adalah kewajiabn seorang suami untuk menggauli istrinya dengan baik. Bila sang istri sebelumnya berasal dari keluarga yang berada maka diusahakan sama perlakuannya dengan ketika di keluarganya. Dianjurkan bagi suami untuk mendatangkan pembantu, tentu bila ia mampu, karena seperti ini termasuk dari tuntutan bersikap baik pada istri.

Yang paling mendasar dalam hal ini memang komunikasi suami istri yang mesti dibangun sehingga ada kesepahaman dan saling pengertian. Maka kurang tepat bila suami menuntut yang macam-macam dari istri dengan dalih syar’i “tidak boleh menolak”, sementara istri dalam kondisi capek dan tidak memungkinkan memenuhi semua tuntutan suami.

Seorang istri pun mesti mencontoh teladan Fatimah ketika datang meminta pembantu pada Nabi SAW. Maka beliau menjawab: “Akan aku beritahukan padamu sesuatu yang lebih baik daripada pembantu? Yaitu engkau bertasbih pada Allah tiga puluh tiga kali ketika akan tidur, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh empat kali.” (HR. Muslim)

Dengan hadist ini, banyak ulama yang berkesimpulan, bahwa orang yang selalu berdzikir pada Allah Ta’ala akan diberi kekuatan melebihi mereka yang mempunyai pembantu, atau bisa juga Allah akan memudahkan semua urusannya. Wallahulmusta’an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s