Wajib Selamanya

Ada akhir karena ada awal. Maka ketika titik awal telah ditetapkan, yang tersisa kemudian adalah perjalanan menuju akhir, serta bagaimana memberi arti perjalanan yang ada. Karena meski menempuh jalan yang sama tidak akan pernah ada dua perjalanan yang persis sama. Walaupun ia dari pilihan sekian juta, bahkan milyaran manusia!

Kini, kita sedang menempuh perjalanan itu. Awalnya telah dimulakan jauh bahkan sejak pertemuan sperma dan ovum di rahim para ibunda, dahulu kala. Yang atas izin Allah, mengahsilkan embrio manusia. Yang kemudian, sebagai hamba, kita berjalan di atas sebuah kepastian tujuan penciptaan, ibadah! Kita menyembah dan menyerah kepada Allah saja, seperti perjanjian yang dahulu pernah kita lakukan.

Yang kita miliki sekarang adalah rangkaian hari-hari. Di mana setiap perjalanannya adalah mengurangi sebab ia tidak akan mundur ke belakang lagi. Dan hidup adalah pertaruhan pilihan, yang hanya boleh terjadi sekali sebab ia tak mungkin terulang lagi. Padanyalah nilai perjalanan kita ditentukan, baik buruknya, sukses gagalnya.

Pilihan yang benar hanyalah beribadah kepada Allah, bahkan hingga datang keyakinan, yakni ajal kita. Sebuah kewajiban abadi yang telah tertulis di dalam kitab-kitab suci samawi, dan menjadi tugas risalah para rasul dan nabi. Ia juga bahkan menjadi tujuan penciptaan langit dan bumi!

Kewajiban ini tidak berhenti meski nyawa kita berpisah dengan raga. Karena kita, hakikatnya, hanyalah berpindah ke alam lain, barzakh. Yang selesai di dunia ini dengan kematian kita adalah ibadah yang berupa taklif (tugas syariat); perintah dan larangan Allah. Ibadah kita di alam barzakh ini berwujud jawaban atas pertanyaan tentang sesembahan kita di dunia, juga tentang kerasulan Muhammad. Dan jawaban-jawaban kita adalah buah dari pohon ibadah kita kepada Allah di dunia.

Demikian juga saat kiamat datang, Allah akan memerintahkan manusia untuk bersujud kepada-Nya. Maka hanya hamba-hamba yang beriman yang mampu, atas izin Allah, melakukannya. Sedang orang-orang munafik dan kafir tidak mampu melakukannya walau sangat ingin. Inilah ibadah kita pada saat itu.

Kewajiban ibadah ini akan terus berjalan hingga hisab selesai dan taklif telah usai, dalam bentuk yang lain. Hamba-hamba terpilih yang memasuki jannah, akan tetap beribadah. Wujudnya adalah tasbih terus-menerus beriringan dengan hembusan nafas mereka tanpa letih dan lelah. Subhanallah!

Maka jika ada manusia yang mendakwakan dirinya telah sampai kepada satu maqamtertentu (wushul), dimana kewajiban ibadahnya telah gugur, itu adalah dusta, zindiq, bahkan bisa sampai kafir. Karena dia, hakikatnya, telah melepaskan dirinya dari agama.

Sebab, selain menjadi kewajiban abadi, beribadah kepada Allah bersifat kumulatif. Hingga jika semakin tinggi maqam seorang hamba, akan semakin besar pula ketundukannya kepada syariat Allah. Sebagaimana Rasululullah SAW pun berdakwah menegakkan syariat, serta menjalankan shalat hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Lalu, atas nama apa kita merasa bisa terbebas dari syariat? Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s